Bolehkah Kunikmati Saja?
Ia bertanya padaku. Benarkah rasa itu? Jika memang iya, bagaimana bisa? Bagaimana bisa begitu cepat? Sedangkan kita baru saja bersua. Aku diam menatap kakiku sendiri. Susah menjawabnya. Karena rasa ini datang begitu saja. Tetapi percayalah. Aku tak bermaksud buruk. Meski beberapa kawan menasehatiku. Hati-hati dengan hati. Hati-hati main dengan hati. Tetapi aku terlanjur berada di pusarannya. Susah untuk kembali. Bolehkah kunikmati saja?
Mereka bilang nanti aku patah hati. Mereka bilang nanti aku sedih. Tetapi aku terlanjur bermain dengannya. Aku terlanjur merasakan hangatnya. Dan terlanjur terbiasa dengannya. Bolehkah kunikmati saja?
Aku berusaha hati-hati. Aku berusaha tak terlalu berharap. Aku berusaha biasa. Tetapi dengannya aku merasa berbeda. Aku merasa mendapat sesuatu yang kuinginkan. Dan yang kubutuhkan. Bolehkah kunikmati saja?
Mereka bilang nanti aku sakit. Mereka bilang nanti menangis. Tetapi aku merasa ia pun mulai terbiasa denganku. Aku merasa ia membalasku. Aku merasa ia mengerti butuhku. Bolehkah kunikmati saja?
Mungkin aku belum tahu dia. Mungkin aku belum paham dia. Tetapi ia tahu aku. Ia mengerti dan memahami aku. Aku pikir aku akan bisa juga begitu seiring berjalannya waktu. Bolehkah kunikmati saja?
Terkadang, banyak orang rela merasa sakit demi merasakan nikmat meski hanya sesaat. Mereka tahu, sakit yang dirasa akan lebih lama dari bahagia yang hanya mampir sejenak. Mereka tahu, dan mereka mengerti, sakit itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan daripada ketika mereguk indahnya. Mereka tahu, mereka mengerti, dan mereka paham, rasa sakit itu meskipun mungkin sembuh, tetap akan meninggalkan bekas, yang lebih jelas dan tak bisa lepas disbanding detil ketika senang. Dan mereka menikmatinya. Jadi, bolehkah kunikmati saja?










